Sabtu, 03 Juni 2023

KUPAS TUNTAS Idul Adha

 

" Hakikat kurban adalah menyembelih sifat buruk dalam diri kita "



 IDUL ADHA

`Id secara bahasa artinya `aada, ya`udu artinya kembali, sedangkan adha diambil dari kata adhat berasal dari kata Udhiyyah, artinya kurban. Secara istilah Idul Adha adalah kembalinya bersyukur merayakan hari kemenangan dengan melaksankan ibadah dan berqurban. Dasar pelaksanaannya dalam surah al-Kautsar ayat 2, surah Ibrahim ayat 102-108.

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan haram (dimuliakan), yaitu Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Keutamaaan yang Allah tetapkan di empat bulan haram tersebut adalah dilipatgandakannya pahala bagi seorang yang mengerjakan amalan saleh, sehingga seorang hamba akan lebih giat melakukan amalan kebaikan pada bulan-bulan tersebut. Begitu pula, perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya menjadi lebih besar di sisi Allah, sehingga seorang hamba bisa meraih ketakwaan yang lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya, dengan semakin menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Dengan demikian, kebahagiaan, ketentraman, dan keselamatan di dunia dan akhirat bisa terwujud.

Bulan Dzulhijjah sebagai salah satu bulan haram memiliki keistimewaan, di antaranya:

 

A.     KEUTAMAAN BULAN DZULHIJAH

1. Dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


 

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ


“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim).

 

2. Dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ شَهْرَا عِيدٍ رَمَضَانُ وَذُو الْحَجَّةِ


“Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak pernah berkurang, kedua bulan itu adalah bulan id: bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Al Bukhari & Muslim).

 

3.   Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ


“Tidak ada hari dimana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal saleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh).” (HR. Al Bukhari, Ahmad, Abu Daud, dan At Turmudzi)

 

4.  Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَه


“…puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad & Muslim)


5.   Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


يوم عرفة ، ويوم النحر ، وأيام التشريق ، عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل وشرب


“Hari Arafah, hari berqurban, dan hari tasyriq adalah hari raya kita, wahai kaum muslimin. Itu adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, & Turmudzi)

 

6.  Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ


“Tidak satu hari dimana Allah paling banyak membebaskan seseorang dari neraka melebihi hari arafah. Sesungguhnya Dia mendekat, kemudian Dia membangga-banggakan mereka (manusia) di hadapan malaikat. Dia berfirman: Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim, An Nasa’i, dan Al Hakim).

Kita semua mengenal bahwasanya bulan Dzulhijjah adalah bulan kedua belas dan terakhir dari penanggalan kalender Hijriyah. Pada bulan Dzulhijjah juga masyarakat biasa menyebutnya bulan haji karena pada tanggal 9 di bulan ini (dzulhijjah) kaum muslimin yang beribadah haji melaksanakan wukuf di Arafah sementara yang tidak beribadah haji melaksanakan puasa sunnah Arafah. Kemudian pada tanggal 10 di bulan ini umat Islam memperingati hari raya Idul Adha atau kita biasa mengenal dengan hari raya kurban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ


“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 27-28)

Dalam rangka menyambut bulan Dzulhijjah, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh karena pahala dari apa yang kita kerjakan akan dilipatgandakan oleh Allah. Dari Ibnu Umar dari Nabi bersabda, “Tidak ada kumpulan hari yang amal saleh lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dikerjakan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

 

B.      B. Amalan-amalan saleh yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah

1.                   1. Puasa Arafah

Puasa Arafah adalah puasa sunah yang dijalankan pada tanggal 09 Dzulhijjah tahun hijriyah. Puasa Arafah dianjurkan bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji di Makkah. Cara melaksanakan puasa arafah sama seperti puasa sunah lainnya.

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

 

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

2.                  2. Takbir dan Dzikir

 

مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدَيْنِ لِلَّهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

 

“Siapa yang menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha karena mengharap pahala dari Allah, hatinya tidak akan mati pada hari semua hati itu mati.” (HR. Ibnu Majah, no. 1782.)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Semua hadis tentang hal ini daif. Imam Syafi`i dan ulama Syafi`iyah tetap menganjurkan menghidupkan malam Id, walaupun hadis ini daif karena hadis ini seputar fadhilah amal sehingga tidaklah masalah.” (Al-Majmu’, 5:43)

Imam Syafi`i rahimahullah berkata, “Doa itu dianjurkan pada lima waktu: (1) malam Jumat, (2) malam Idul Adha, (3) malam Idul Fitri, (4) malam pertama Rajab, (5) malam nisfu Syakban.” (Al-Majmu’, 5:43)

Menurut pendapat yang kuat sebagaimana yang dipilih An-Nawawi bahwa bertakbir ketika Idul Adha dimulai sejak : setelah shalat shubuh pada hari Arofah (9 Dzulhijah) hingga shalat Ashar pada akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah). Setelah itu takbir tersebut selesai.

Perbanyak dzikir termasuk bertahlil, bertasbih, beristigfar, bertahmid, bertakbir dan memperbanyak doa merupakan suatu amalan yang dianjurkan pada bulan ini, tidak hanya dijalankan pada bulan Dzulhijjah saja tetapi juga dibiasakan pada keseharian hidup kita. Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah”

3.                   3. Menunaikan Ibadah Haji dan Umroh

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah dari rukun Islam yang kelima, dan wajib dikerjakan oleh setiap muslim bagi yang mampu mengerjakan baik secara finansial maupun fisik.


وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ فَإِنۡ أُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡيِۖ وَلَا تَحۡلِقُواْ رُءُوسَكُمۡ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ ٱلۡهَدۡيُ مَحِلَّهُۥۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ بِهِۦٓ أَذٗى مِّن رَّأۡسِهِۦ فَفِدۡيَةٞ مِّن صِيَامٍ أَوۡ صَدَقَةٍ أَوۡ نُسُكٖۚ فَإِذَآ أَمِنتُمۡ فَمَن تَمَتَّعَ بِٱلۡعُمۡرَةِ إِلَى ٱلۡحَجِّ فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡيِۚ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖ فِي ٱلۡحَجِّ وَسَبۡعَةٍ إِذَا رَجَعۡتُمۡۗ تِلۡكَ عَشَرَةٞ كَامِلَةٞۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمۡ يَكُنۡ أَهۡلُهُۥ حَاضِرِي ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ


196. “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.”

197. “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah [2]; ayat: 196-197)

Dan QS. Ali-Imran yat 97, sebagai berikut:

 

… وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ


(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam." (QS. Ali-Imran: 97)

4.                   4. Berqurban

Hari raya Idul Adha atau sering dikenal dengan hari raya qurban, karena pada tanggal 10 Dzulhijjah tersebut, umat Islam berlomba-lomba menyisihkan sebagian hartanya untuk membeli kambing, lembu atau unta untuk disembelih setelah shalat hari raya Idul Adha dilaksanakan dan tiga hari setelahnya atau yang kita kenal dengan hari tasyrik. Udhiyah atau menyembelih hewan qurbah disyariatkan oleh Allah. sebagaiman firman Allah dalam surat al-kautasar/08: 2 “Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an-nahr). Para Jumhur ulama menafsirkan ayat tersebut dengan “Berkurbanlah pada hari Idul Adha (yaum an-Nahr). Udhiyah merupakan bentuk rasa cinta dan ketaqwaan seorang muslim kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ


“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Hajj/22; ayat: 37)

Ibadah kurban sebaiknya dilakukan tiap muslim yang mampu di bulan Dzulhijjah saat perayaan Idul Adha. Dalam hadit dijelaskan, kurban adalah salah satu amalan yang dicintai Allah SWT

 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »

Dinarasikan Aisyah, Rasulullah SAW mengatakan, "Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai Allah SWT daripada mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridho) Allah SWT sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban." (HR Tirmidzi).

C.      Amalan-Amalan Sunah pada Idul Adha

1.      Mandi Sunah Idul Adha

2.      Menggunakan pakaian terbaik

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki pada dua hari raya dan memakai minyak wangi” (HR. Hakim)

3.      Memakai wangi-wangian

4.      Tidak makan sebelum shalat Id

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘id baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad, 5:352. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan)

5.      Datang Lebih awal

6.      Berjalan kaki menuju tempat ibadah

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah)

7.      Melewati jalan yang berbeda antara pergi dan pulang

Dalam sebuah hadis disampaikan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Id, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.“ (HR. Al Bukhari).

8.      Mengajak seluruh anggota keluarga, baik yang sudah baligh maupun belum.

 

D.     Tata Cara Melaksanakan Sholat Idul Adha

1.      Hukum shalat Id adalah sunnah muakkad.

2.   Shalat Id disunnahkan dilakukan berjamaah. Akan tetapi, shalat Id berjamaah bukan jadi syarat untuk shalat Id, artinya masih dibolehkan shalat Id sendirian.

3.   Shalat Id dilakukan dengan dua rakat, juga shalat Id tidak disyaratkan dilakukan di masjid atau musala.

4.      Bagi yang shalat Id sendirian, maka tidak perlu memakai khutbah.

5.  Jika shalat Id dilakukan di rumah secara berjamaah (dengan istri dan anak-anak), disunnahkan untuk berkhutbah. Karena maksud khutbah adalah sebagai nasihat.

6.    Waktu shalat Id di rumah adalah antara waktu terbit matahari hingga waktu zawal (matahari tergelincir ke barat). Akan tetapi, disunnahkan untuk mengundur waktu shalat Id hingga matahari meninggi setinggi tombak (kira-kira 15 menit setelah matahari terbit).

7.      Tata cara shalat Id sama seperti shalat pada umumnya.

8.      Setelah takbiratul ihram pertama membaca doa iftitah (istiftah) sebagaimana shalat lainnya.

9.   Setelah membaca doa iftitah, melakukan takbir tambahan (zawaid) sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama (selain takbir untuk takbiratul ihram dan takbir turun rukuk). Sedangkan pada rakaat kedua, melakukan takbir tambahan sebanyak lima kali (selain takbir bangkit dari sujud dan takbir turun rukuk). Jika takbir tambahan (zawaid) ini hanya sunnah, sehingga kalau luput tidak mesti diulangi. Jika ada makmum yang masbuk saat takbir zawaid, cukup mengikuti sisa takbir yang ada tanpa qadha’.

10.   Setiap kali takbir zawaid disunnahkan mengangkat tangan dan kembali bersedekap.

11.  Di antara takbir zawaid (tambahan), disunnahkan berhenti sejenak sekadar membaca satu  ayat pertengahan. Saat itu bisa membaca takbir atau mengagungkan Allah. Yang paling bagus di antara takbir zawaid adalah membaca: SUBHANALLAH WAL HAMDU LILLAH WA LAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR.

12. Setelah takbir zawaid, membaca surah Al-Fatihah. Setelah surah Al-Fatihah dianjurkan membaca surah Qaf pada rakaat pertama dan surah Al-Qamar pada rakaat kedua, atau membaca surah Al-A’laa pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.

13.  Bacaan surah saat shalat Idul Fitri dikeraskan (jahr), begitu pula dengan bacaan takbir.


E.      Syarat sah shalat Idul Adha

1.      Beragama Islam. Shalat tidak wajib bagi orang kafir

2.      Berakal sehat. Sholat tidak wajib bagi orang gila

3.      Sudah balig. Sholat tidak wajib bagi anak kecil sampai dia mengalami mimpi basah

4.      Sudah masuk waktu Sholat. Dikerjakan sesuai dengan waktu pelaksanaannya

5.      Bersih dari darah haid dan nifas

F.              F.   Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban

penyembelihan hewan kurban harus memenuhi empat rukun yaitu

1.      pekerjaan menyembelih (Dzabhu),

2.      orang yang menyembelih (dzabih), penyembelih harus orang Islam

3.      hewan yang disembelih, harus sudah cukup umur (kambing biasa sudah cukup 1 tahun lebih, kambing domba minimal sudah berganti gigi,  sapi/kerbau sudah cukup 2 tahun lebih, onta sudah cukup 5 tahun lebih. Juga sehat, tidak cacat batin atau fisik, tidak berpenyakit.

4.      alat untuk menyembelih, harus ditajamkan.

Para ulama sepakat bahwa semua hewan ternak boleh dijadikan untuk kurban. Hanya saja ada perbedaan pendapat mengenai mana yang lebih utama dari jenis-jenis hewan tersebut. Imam Malik berpendapat bahwa yang paling utama adalah kambing atau domba, kemudian sapi, lalu unta. Sedangkan Imam al-Syafi’i berpendapat sebaliknya, yaitu yang paling utama adalah unta, disusul kemudian sapi, lalu kambing (Ibn Rusyd I:315).


وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

 

"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka." (QS. Al-Hajj: 34)

Namun yang lebih penting dari itu, seorang yang hendak berkurban harus memperhatikan kriteria-kriteria dari hewan yang akan disembelihnya. Menurut Musthafa kriteria-kriteria tersebut diklasifisikasikan sesuai dengan usia dan jenis hewan kurban, yaitu:

1.   Domba (dha’n) harus mencapai minimal usia satu tahun lebih, atau sudah berganti giginya (al-jadza’).

2.   Kambing kacang (ma’z) harus mencapai usia minimal dua tahun lebih.

3.   Sapi dan kerbau harus mencapai usia minimal dua tahun lebih.

4.   Unta harus mencapai usia lima tahun atau lebih.

            Sebagaimana terdapat dalam kitab Kifayatul Akhyar,


 ويجزئ فيها الجذع من الضأن والثني من المعز والثني من الإبل والثني من البقر  


Umur hewan kurban adalah Al-Jadza’u (Domba yang berumur 6 bulan-1 tahun), dan Al-Ma’iz (Kambing jawa yang berumur 1-2 tahun), dan Al-Ibil (Unta yang berumur 5-6 tahun), dan Al-Baqar (Sapi yang berumur 2-3 tahun).

Maka tidak sah melaksanakan kurban dengan hewan yang belum memenuhi kriteria umur sebagaimana disebutkan, entah itu unta, sapi maupun kambing. Karena syari’at telah menentukan standar minimal umur dari masing-masing jenis hewan kurban yang dimaksud, jika belum sampai pada umur yang telah ditentukan maka tidak sah berkurban dengan hewan tersebut, jika telah sampai pada umur atau bahkan lebih maka tidaklah mengapa, asalkan tidak terlalu tua sehingga dagingnya kurang begitu empuk untuk dimakan. 

Adapun ketentuan berkurban, seekor kambing atau domba diperuntukkan untuk satu orang, sedangkan unta, sapi dan kerbau diperuntukkan untuk berkurban tujuh orang.

Ketentuan ini dapat disimpulkan dari hadits berikut:


    عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ  


Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, “Kami telah menyembelih kurban bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi juga untuk tujuh orang.” (Hadits Shahih, riwayat Muslim: 2322, Abu Dawud: 2426, al-Tirmidzi: 1422 dan Ibn Majah: 3123).

Hadits menjelaskan tentang berkurban dengan seekor domba yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam:


عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ (يعني السكين) ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ.  


“Dari Aisyah radliyallâhu ‘anhâ, menginformasikan sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk mendatangkan satu ekor domba (kibas) yang bertanduk . Kemudian domba itu didatangkan kepadanya untuk melaksanakan kurban. Beliau berkata kepada Aisyah: Wahai Aisyah, ambilkan untukku pisau (golok). Nabi selanjutnya memerintahkan Aisyah: Asahlah golok itu pada batu (asah). Aisyah kemudian melakukan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Kemudian Nabi mengambil golok itu dan mengambil domba (kibasy), kemudian membaringkannya, dan menyembelihnya sambil berdoa: Dengan nama Allah, wahai Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan umat Muhammad, beliau berkurban dengan domba itu”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim 1967).

Wallahu 'Alam bishowab

 

Referensi

Imam Nawawi, Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, jilid 5

Taqiyuddin Abu Bakar Muhammad Al Hushni Al Husaini Ad-Dimasyq, Kifayatul Akhyar, Jilid 2

Ibnu Hajar Al 'Asqalani, Kitab Bulughul Maram, Bab Udiyyah (Qurban)

H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily, Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, Penerbit Darul Qalam, 1436.

 

Jumat, 02 Juni 2023

TUJUAN HIDUP, Tau ah Gelap.





Berasal Dari Kudrat Allah, Menuju Rahmat Allah

 

 “ Manusia ibarat terlempar dalam dunia, ia mencari jalan pulang menuju Tuhannya ”


TUJUAN HIDUP MANUSIA

Manusia diciptakan dengan wujud yang paling sempurna, tidak hanya diberikan nafsu sebagai keindahan dalam kehidupan juga diberi akal sebagai penuntun nafsu dalam hidupnya. Allah SWT. telah menjelaskan dalam Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4;

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya.”

Manusia Allah ciptakan mempunyai tugas dan fungsi tertentu, selain untuk menyatukan lahir dan batinya sebagai kesempurnaan dirinya juga sebagai abdi Allah SWT. di bumi. Bentuk pengabdian tersebut dilakukan melalui Ibadah, sosial kemanusian serta melestarikan alam sebagai sumber kehidupan. Sebagaimana Firman Allah SWT. dalam Al-Qur’an surah Ad-Dzariyaat ayat 56, sebagai berikut;

 Artinya: "dan Aku tidak menciptakan jin dan manusi melainkan supaya mereka    mengabdi kepada-Ku."

Dilengkapi di surah Al-Qashash ayat 77, sebagai berikut; 

Artinya: “dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Dan semua yang telah dilakukan manusia selama tugasnya di bumi tidak akan pernah dikenang sepanjang masa kecuali ia pulang meninggalkan tiga perkara: Sedekah jariah, Ilmu yang manfaat untuk agama, nusa dan bangsa dan keturunan-keturunan yang baik. Hal tersebut pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw. Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad sebagai berikut;

عَن أبِى هُرَيْرَة أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)

Artinya: “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.”

“Siapa orang yang berbicara ketuhanan maka ia harus berbicara kemanusiaan”, sebuah kalimat yang harus menjadi anchor dalam hidup.  Ibadah ritual dan ibadah sosial kemanusian, dua hal yang tidak bisa di tinggalkan sebab keduanya saling berkaitan. Kita sudah beribadah ritual tapi lupa dengan sosial kemanusian, ibarat berbicara tanpa berbuat. Karena buah dari kita sholat, kita puasa, kita zakat dan pergi haji adalah membantu kesusahan manusia lain, membantu hal apapun.  Ibadah adalah bentuk komunikasi dengan Allah SWT. dan Sosial kemanusian adalah bentuk komunikasi dengan Allah dan manusia lainnya (hablum minallahi wa hablum minannasi). Maka sangat penting sekali, berbuat baik bukan hanya untuk diri kita sendiri juga untuk orang banyak, waalihi, washohbihi wa ajma’ina (kebaikan untuk kita, keluarga kita, kerabat, dan untuk semuanya). Sehingga akan tercapai keadilan sosial bagi sesuluh umat manusia, adanya kesejahteraan manusia. Jika kita berbicara ketuhanan akan tetapi sosial kemanusiaan ditinggalkan atau sebaliknya berbicara kemanusian tapi meninggalkan ketuhanan, maka dapat dipastikan ia hamba yang belum mengenal dirinya, mengenal Allah, dan mengenal RasulNya.

Ada sabda bijak dari Rasul " Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya."

Dari mana manusia berasal, mau ngapain, dan mau kemana sama siapa?". Pertanyaan klasik ini selalu menarik untuk dijawab oleh umat manusia sepanjang zaman. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berbagai filosof dan ilmuwan mencoba membangun konsep tersebut. Dalam kenyataannya, jawaban atas pertanyaan ini selalu mengandung kelemahan karena keterbatasan manusia dalam memahami siapa dirinya dan Tuhannya. Karenanya, sejumlah gugatan terhadap konsep manusia hadir di hadapan kita. Permasalahannya adalah mungkinkah kita akan berhasil membangun konsep manusia yang dapat memahami hakikat dirinya dan Tuhannya.

Sebagai seorang khalifah di alam jagat ini, hendaknya kita tahu bahwa diri kita adalah manifestasinya Allah, perwujudan adanya di bumi adalah manusia. Salah satu sifat wajib bagi Allah adalah wujud yang artinya ada, adanya secara wujud haqiqi, tidak ada permulaan dan tidak ada kesudahan dan bersifat qodim (terdahulu) dan baqa’ (kekal). Inilah wujud Allah yang sesungguhnya. Wujud Allah SWT yang haqiqi akan kita bisa lihat di akhirat nanti bagi siapa yang Allah SWT kehendaki. Hal ini tertulis di dalam Al-Qur`an surah Al-Qiyaamah ayat 22-23:  

Artinya: “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat.”

Diperjelas dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 26, sebagai berikut;  

Artinya: “bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. mereka Itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya”.

Yang dimaksud dengan tambahannya pada ayat di atas ialah kenikmatan melihat Allah SWT. ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah SWT. dengan mata mereka di akhirat nanti, karena dalam ayat ini Allah SWT. menggandengkan kata “melihat” dengan kata depan “ilaa” yang ini berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari wajah-wajah mereka, artinya mereka melihat wajah Allah SWT. dengan indera penglihatan mereka. Bahkan firman Allah SWT. ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allah SWT. Dan waktu mereka melihat wajah Allah SWT. adalah sesuai dengan tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam setiap waktu.

Selanjutnya adalah wujud mujazi, wujud yang ada permulaan dan ada kesudahan tidak bersifat Qodim (dahulu) dan Baqa’ (kekal) wujud ini ada bersandarkan Qudrat (kuasa) dan Iradat-Nya (kehendak) Allah SWT. sehingga manusia di katakan wujud mujazinya Allah SWT. dengan wujud itu kita mengenal Allah di alam jagat raya ini dan di dalam diri kita sendiri. Jika ingin mengenal Allah kenalilah diri kita sendiri sebagai manifestasinya Allah SWT. di bumi.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Artinya: "Barangsiapa telah mengenal (hakekat dan kedudukan) dirinya, berarti ia telah mengenal Tuhannya." (Hadits ini disebutkan oleh Al-Mulla Ali Al-Qory di dalam kitab haditsnya "Al-Asrooru Al-Marfu'atu Fil akhbaari Al-Maudhu'ah no.506).

Manusia diberi alat indra dan hati untuk mengenal dirinya, alam semesta, dan Allah SWT. Kita lihat Al-Qur’an surah Al-Insaan ayat 2, berikut ini;

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.”

Berangkat dari penjelasan ayat di atas, Allah memberikan alat indra paling utama, yaitu pendengaran, penglihatan (proses menjadi hati ada di artikel sebelumnya). Kebanyakan manusia terlena dan terjebak dengan alat indra ini, ia gunakan kepada hal-hal yang mendatangkan keburukan bukan kebaikan, sehingga alat indra ini mati sebagai fungsi utamanya untuk mengenal dirinya, alam semesta, dan Tuhannya. Ketika kedua alat indra ini Allah matikan sebagai fungsi utamanya walaupun panca indera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu, dan buta oleh karena tidak dapat menerima kebenaran dan kebaikan-kebaikan dalam diri manusia tersebut. Bahkan Allah mengecam serius dalam persoalan ini, kita lihat surah Al-Baqarah ayat 18;   

Artinya: “mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).”

Dipertegas Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 46;   

Artinya: “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

Sebagai seorang makhluk yang paling sempurna yang dibekali hati dan panca indra hendaklah ia mampu menggunakannya sebaik-baiknya untuk sadar terhadap jati dirinya dan Allah SWT. bukan sebaliknya.

Seringkali kita mengaku sudah kenal Tuhan kita, tapi tak mau patuh dengan perintahNya, bahkan kita masih berani sembunyi-sembunyi atau terang-terangan melakukan hal yang dilarang. Punya hati kita gunakan untuk merasa paling pintar dan benar, merendahkan orang lain, punya telinga kita gunakan untuk mendengar yang tidak baik, punya mata kita gunakan melihat yang dilarang, punya mulut kita gunakan untuk mencela, memfitnah, gibah, hasut, dengki, adu domba, punya tangan dan kaki kita gunakan untuk maksiat, punya kemaluan disalurkan kepada yang haram. Semua perbuatan buruk yang pernah kita lakukan karna hati kita telah tertutup dan mati dari kebenaran.

Firman Allah dalam Al-Qur’an surah al-A’raaf ayat 179;

Artinya: “dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”

Mulai saat ini sebelum mata ini tertutup selamanya, kita harus sadar bahwa Allah SWT. selalu mencatat semua perbuatan buruk kita yang nantinya akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya.

Jika kita mengakui bahwa kita kenal Tuhan kita Allah SWT. dan kenal diri kita sebagai manifestasi-Nya di bumi ini, kita akan memberikan haknya yang baik untuk jasad ( kepala, telinga, mata, mulut, perut, tangan, kaki dsb.), hak hati dan hak ruh kita. Dan kita harus siap melakukan tugas kita sebagai manusia baik dalam keadaan senang ataupun tidak senang mewujudkan sifat kasih dan sayangnya Allah SWT. kepada makhlauk lainnya di bumi, juga harus mampu berpikir positif dalam semua keadaan. Sehingga pertanyaan "dari mana manusia berasal, mau ngapain, dan mau kemana sama siapa?". dapat kita jawab. (wallahu a`lam bishowab).

 

PLURALISME DAN DEMOKRASI, DITERIMA APA DITOLAK ?

  " Syariat bisa berubah karena perubahan zaman, tetapi akidah tidak akan berubah"  (Buya Hamka) PLURALISME DAN DEMOKRASI, DITERIM...