Jumat, 16 Agustus 2024

7 GOLONGAN YANG AKAN DINAUNGI ALLAH PADA HARI KIAMAT


 

" Kualifikasi, kompetensi, dan kinerja seorang hamba akan terlihat ketika ia menemui Tuhan-Nya "


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh: Al-Bukhari (no. 660, 1423, 6479, 6806), Muslim (no. 1031 (91)), Malik dalam al-Muwaththa’ di Kitâbusy Syi’ar bab Mâ Jâ-a fil Muttabi’iin fillâh (hlm. 725-726, no. 14), Ahmad (II/439), At-Tirmidzi (no. 2391), An-Nasa-i (VIII/222-223), Ibnu Khuzaimah (no. 358), Ath-Thahawi dalam Musykilul Âtsâr (no. 5846, 5847), dan Al-Baihaqi dalam Sunannya (IV/190, VIII/162).

Penyebutan jumlah “tujuh” di dalam hadits ini tidaklah merupakan pembatas, sehingga tidak dapat diartikan bahwa golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat hanya terbatas pada tujuh golongan ini saja. Menurut Ulama ahli ushul, istilah ini disebut dengan mafhûmul ‘adad ghairu murad, yaitu mafhum dari ‘adad (bilangan) itu tidak dimaksudkan. Sehingga apabila disebutkan tujuh, bukan berarti hanya tujuh ini saja. Kedudukan hadits ini sangat penting agar kaum Muslimin dapat melaksanakan amalan-amalan yang terkandung di dalamnya, sehingga kita dapat memperoleh perlindungan dan naungan Allah pada hari Kiamat. Kemudian Nabi Muhammad Saw. bersabda: يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ.. Mereka dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya. Lafazh فِي ظِلِّهِ, yaitu idhâfah (penyandaran) bayangan kepada Allah. Para Ulama mengatakan, إِضَافَتُهُ إِلَى اللهِ إِضَافَةُ تَشْرِيْفٍ. Penyandarannya kepada Allah, yaitu penyandaran yang bertujuan untuk memuliakan Yaitu menunjukkan kemuliaan, seperti masjidullaah, baitullaah, dan selainnya. Dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa naungan yang dimaksud adalah naungan ‘Arsy Allah . Sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dari sahabat Salman al-Farisi ra, Nabi bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهِ فِيْ ظِلِّ عَرْشِهِ  tujuh golongan yang dilindungi di bawah naungan ‘Arsy-Nya. Nanti pada hari Kiamat, manusia sangat membutuhkan perlindungan Allah. Pada hari itu mereka dikumpulkan di tempat lapang yang sangat luas, tidak ada naungan apapun juga. Mereka dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak memakai alas kaki, tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya, laki-laki dan perempuansama. Pembahasan tentang tujuh golongan yang dilindungi Allah dalam naungan-Nya pada Kiamat ini sangat penting karena berkaitan dengan iman kepada hari Akhir serta pengetahuan tentang amalan-amalan yang membawa kita dalam naungan dan perlindungan Allah.

tujuh golongan itu di antaranya:

  1. Seorang pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang soleh
  3. Seorang yang hatinya bergantung ke masjid

  4. Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.

  5. Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.

  6. Seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkankan tangan kanannya.

  7. Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.


wallahu a`lam 



Kamis, 18 Juli 2024

HARAMKAH SALAMAN SETELAH SELESAI SHALAT ?

 





  "  Mengucapkan salam dan berjabat tangan perbuatan yang baik setiap perbuatan baik ada ganjaran yang diterima "



 

 HARAMKAH SALAMAN SETELAH SELESAI SHALAT


Fenomena yang sering terjadi setelah selesai shalat adalah saling bersalaman, bahkan menjadi pertanyaan besar bagi mereka yang melihat dan melakukannya setelah shalat. Apakah hal ini dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. atau tidak, atau ada dalil yang menerangkan kebolehan atau ketidakbolehan salaman setelah selesai shalat. Kita tidak boleh menghukumi sesuatu yang ada dalam syariat kecuali memahami teks-teks agama sebagai seorang yang mampu melakukan ijtihad melalui cara istinbath (mengeluarkan hukum dari sumber hukum syariat) dan tatbiq (penerapan hukum). Jika mendapati kabar berita baik atau tidak baik maka Nabi memberikan tuntunan melalui firman Allah Swt. QS. Al-Hujurat:49/6;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan (-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

Berbicara dan menetapkan hukum tanpa dasar berarti ia berdusta atas nama Nabi, Nabi Muhammad Saw. mengecam bagi siapa saja yang berdusta atas namanya;

 

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta di atas namaku, maka siaplah tempatnya di dalam neraka.” (Riwayat al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan selainnya).

Bersalaman merupakan perbuatan baik yang diperintahkan oleh Nabi, pada kondisi apapun, di manapun, kapanpun, dalam kondisi yang dibenarkan. Bersalaman akan menggugurkan dosa-dosa orang yang bersalaman. Bersalaman bukan sekedar bersalaman akan tetapi ada hati terbaik untuk meminta maaf. Tangan saling bersedekap, hati saling bertemu lalu mengucapkan “Asslammu`alaikum” maka kita wajib menjawab dengan jawaban paling baik “wa’alaikum salam wr wb.” Setelah itu mengucapkan “maafkan saya atas dosa-dosa saya ya”.

 

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٖ فَحَيُّواْ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَآ أَوۡ رُدُّوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَسِيبًا

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu. (QS. An-Nisâ`:4/86)

 

Lalu bagaimana bersalaman setelah selesai shalat, boleh atau tidak. Ada beberapa hadis yang menerangkan bolehnya bersalaman setelah shalat, di antaranya:

 

عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

 

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ

Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya. (H.R. Bukhari).

 

Dalil-dalil di atas menjadi dasar dibolehkannya bersalaman setelah selesai shalat. Bersalaman setelah selesai shalat merupakan salah satu kondisi terbaik seseorang untuk saling memafkan. Sesuai dengan hadis-hadis tersebut, dalam kondisi kapanpun, di manapun, dan situasi yang dibenarkan, maka bersalaman setelah selesai shalat dibolehkan bahkan dianjurkan dengan niat meminta maaf dalam kondisi terbaik. Namun alangkah baiknya sebelum saling bersalaman ada perbuatan yang paling utama setelah selesai shalat adalah berdzikir lebih dahulu sebelum bersalaman. Nabi Saw. memerintahkan umatnya melalui firman Allah dalam QS. An-Nisâ`:4/103, setelah selesai shalat maka berdzikirlah mengingat Allah. kendati demikian berdzikir sambil bersalaman seketika, tidak masalah.

Dengan demikian, bersalaman setelah selesai shalat adalah perbuatan baik karena ada dalil yang memerintahkannya, bukan perbuatan yang dilarang dan haram dilakukan. Semoga dengan membaca tulisan ini tidak ada lagi orang yang enggan menerima tangan orang lain yang hendak bersalaman setelah selesai shalat. Bahkan kita harus segera menerima tangan tersebut sambil mengucap salam. Berdzikir lalu bersalaman.

Wallahu`alam bi showab.

Kamis, 09 Mei 2024

MAKNA HARI RAYA



 “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)



MAKNA HARI RAYA

Tidak ada alasan seorang muslim yang tidak bergembira datangnya hari raya, apa yang menjadi alasan kita tidak bergembira di hari raya?, sebuah alasan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan hingga membuat kita tidak semangat mengisi moment baik untuk melakukan hal-hal baik di hari raya. Ketika seseorang merasa hari raya ‘id sama saja dengan hari-hari biasa bertanda bahwa dirinya ada yang salah. Mari sama-sama kita intropeksi diri masing-masing.

 Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa pada hari ini umat Muslim dianjurkan untuk bergembira. Dalam salah satu hadis dijelaskan,


 عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ‏‏‏. قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ‏. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏‏إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

 

Artinya, “Diriwayatkan dari sahabat Anas, ia berkata, ‘Sekali waktu Nabi SAW datang di Madinah, di sana penduduknya sedang bersuka ria selama dua hari. Lalu Nabi bertanya ‘Hari apakah ini (sehingga penduduk Madinah bersuka ria)? “Mereka menjawab ‘Dulu semasa zaman jahiliah pada dua hari ini kami selalu bersuka ria.’ Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah menggantikannya dalam Islam dengan dua hari yang lebih baik dan lebih mulia, yaitu hari raya kurban (Idul Adha) dan hari raya fitri (Idul Fitri),” (HR Abu Dawud). 

Hari raya adalah hari di mana seseorang mampu mengarahkan nafsunya ke arah yang diperintahkan Tuhan dan Rasul-Nya. Bukan mematikan nafsu, tapi mengarahkan karena nafsu salah satu anugrah yang diberikan Allah untuk hamba-hamba-Nya. Hari raya adalah hari di mana kesucian kembali kita nikmati setelah kita tidak sadar mengukir hidup kita setahun ini dengan tulisan gelap karena bujukan setan dan iblis terhadap nafsu kita. Setidaknya tulisan hitam masa lalu kita dapat hapus di bulan suci mulia dan mudah-mudahan di hari raya tulisan putih berawal dan sampai akhir hidup kita.

 Hari raya bukan pulang kampung, hari raya bukan bersalaman, hari raya bukan baju baru. Hari Raya adalah orang yang hatinya suci, hatinya bersih, pikirannya positif. Nafas yang keluarpun adalah “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu”.

Karena hari ini adalah hari raya, kemarin adalah hari raya dan besokpun adalah hari raya. Bahkan setiap hari ketika seorang hamba tidak melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya adalah hari raya baginya. Semakin hari semakin bertambah penghambaannya kepada Allah adalah hari raya untuknya.

 Rasulullah Saw. Bersabda:


 مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَرَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ



Artinya, “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim). 


Oleh karenanya, momentum hari raya seharusnya menghadirkan semacam kegelisahan diri dan emosional, perihal bagaimana membaca tahun sebelumnya sekaligus persiapan dan visi misi yang akan dilakukan pasca idul adha dan idul fitri. Mempersiapkan dengan lebih baik tentu juga berusaha untuk menjadi orang-orang yang memiliki catatan hidupnya baik.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Hasyr ayat 18). 


Imam Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik al-Qusyairi (wafat 465 H) dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa ayat ini memiliki dua makna takwa, (1) takwa dalam konteks siksaan (‘uqubah), yaitu Allah akan menyiksa orang-orang yang tidak taat kepada-Nya, sehingga Ia memerintahkan hamba-Nya untuk bertakwa; dan (2) takwa dengan konteks spirit baru, yaitu mempersiapkan diri untuk menambah ketaatan, dengan memperhatikan pekerjaan-pekerjaannya untuk dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.

Untuk mengawali catatan baik di kertas kehidupan, mari kita sambut hari raya idul adha dengan memperbanyak ibadah di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, terutama berpuasa tarwiyah dan arafah. Semoga dengan amalan ini Allah dan Rasul-Nya mencatat kita termasuk hamba-hamba yang baik dan beruntung. 



مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ


 Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar” (HR At-Trmidzi).



 صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ


 Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu” (HR Muslim).


Wallahu A’lam bis Showab.

  

Kamis, 04 April 2024

WAQAF BAGIAN DARI SEDEKAH JARIYAH


  

satu banding dua, satu untuk bahagia dunia, dua untuk bahagia akhirat

Robbana atina fiddunya hasanah, wafi al-akhirati hasanah waqina azabannar



WAQAF BAGIAN DARI SEDEKAH JARIYAH

Pada kesempatan kali ini, saya tak bosan-bosannya untuk mengajak kepada para pembaca untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah S.W.T. dengan sebenar-benar takwa, ditandai dengan menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala apa yang menjadi larangan Allah S.W.T, Karena sebaik baik bekal menghadap kepada Allah SWT adalah dengan bekal Takwa.

Sejauh usia kita hidup, hampir semua manusia berpikir bagaimana menjadi hidup enak, punya istri / suami cakep, punya anak-anak baik, punya keluarga enak, punya rumah enak, punya kendaraan enak, membeli tanah di mana-mana dan lain sebagainya. Hal ini kita usahakan sampai berpikir sungguh-sungguh untuk mewujudkan itu.

Tapi kita lupa dengan berpikir bagaimana mati enak, apa yang kita bawa, rumah apa yang kita bangun di sana, luas tanah yang kita punya berapa, kendaran kita apa di sana. Buktinya kita tidak berpikir sungguh-sungguh untuk mewujudkan itu. Ada yang salah dalam diri kita? setiap kali kita berdoa “Robbana atina fiddunya hasanah wafi al-akhirati hasanah” tapi sejatinya kita lupa “waqina azabannar”.

Kita hidup di dunia ini tidak akan lama antara 60-70 tahun sabda Nabi. Hal tersebut menjadi pengingat kita untuk mempersiapkan hidup kita di alam setelah ini.  

Rasulullah Saw. pernah bersabda:

 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya. (H.R. Muslim 3084)

Ulama menjelaskan bahwa maksud dari sedekah jariah adalah wakaf. Berangkat dari hadits Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, tujuan seluruh aktifitas manusia dikumpulkan ke dalam tiga perkara, tiga perkara inilah yang nantinya akan Allah perhitungkan sebagai kebaikan yang terus mengalir pahalanya sepanjang masa, Allah SWT. berfirman dalam QS. al-Baqarah: 2/261 menjelaskan tentang pahala orang-orang yang bersedekah jariyah:

 

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.


Sedekah Jariyah merupakan hasil daripada ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Ibadah tanpa adanya amal sholeh maka nilainya kosong bahkan termasuk ke dalam orang-orang yang lalai dalam Ibadah dan ancaman bagi orang-orang yang lalai terekam dalam (QS. Maun: 2-4), di ayat inilah orang tersebut disebut orang munafiq.

Pengertian orang munafiq dalam konteks ayat ini adalah orang yang rajin ibadah tetapi tidak ada praktik sosial dari hasil ibadahnya, sama halnya dengan orang yang perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya. Maka perlu bagi kita sekalian yang sudah melaksanakan ibadah kita lanjutkan dengan amal sholeh. Sebagai bukti bahwa kita bertaqwa kepada Allah SWT.

Ibadah Waqaf menempati kedudukan yang paling tinggi di antara amalan manusia, maka tidak heran di antara kita dari zaman Nabi, Para Sahabat sampai Zaman sekarang orang-orang yang memberikan Waqaf/sedekah jariyah atas hartanya memiliki kemuliaan khusus baik di hadapan makhluk, kaum langit, maupun di hadapan Allah SWT. dan kelak manusia semacam ini akan memasuki pintu khusus untuk masuk ke dalam surga yakni pintu sedekah.

Ada hal sangat penting yang perlu saya sampaikan, sebagai manusia yang peduli dengan manusia lain hendaknya kita saling bahu-membahu, gotong-menggotong, bantu-membantu, dan saling mempererat persatuan dan kesatuan dalam masyarakat. Ada pekerjaan yang belum selesai untuk pembangunan majlis Ahlul Bait al-Idrisiy, khususnya pembelian tanah wakaf untuk pembangunan majlis ilmu. Siapa yang ingin berwaqaf, semoga waqafnya menjadi sebab niat hajatnya terkabul serta Allah bangunkan rumah kelak di surga-NYa nanti khusus bagi kita yang senang dengan sedekah jariyah.

Saya berdoa semoga kita semua diberikan kekuatan dan kelapangan untuk memberikan amal saleh terbaik kita dalam hidup ini. Kelak amal saleh ini menemani perjalanan hidup kita: di alam kubur, di alam Kebangkitan, di alam masyar, di alam hisab, di alam pertimbangan, dan alam terakhir yaumul akhirat, surga atau neraka.

Wallahu A’lam bis Showab.


 Do`a

 

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

 

 

 

 

 

PLURALISME DAN DEMOKRASI, DITERIMA APA DITOLAK ?

  " Syariat bisa berubah karena perubahan zaman, tetapi akidah tidak akan berubah"  (Buya Hamka) PLURALISME DAN DEMOKRASI, DITERIM...